Friday, May 06, 2005

haul mbah slagah dipadati pengunjung

Rabu, 03 Des 2003
Haul Mbah Slagah Dipadati Pengunjung


PASURUAN - Kebesaran nama Mbah Slagah ternyata benar-benar berbekas
di benak masyarakat Pasuruan. Kenyataan itu terlihat saat haul-nya
(peringatan wafat) yang ke 250. Ribuan masyarakat berduyun-duyun
mengenang kembali sejarah tokoh pejuang dan penyebar agama di
Pasuruan ini, pagi kemarin.

Warga dari berbagai pelosok kota dan kabupaten Pasuruan sudah mulai
berdatangan sejak malam hari sebelum acara haul itu dimulai. Mereka
mengikuti beberapa rangkaian acara yang digelar panitia sejak tanggal
1 Desember, di pelataran makam Mbah Slagah di kawasan Jl Slagah gang
V, bersebelahan sebuah musala kecil di selatan samping makam itu.

Rentetan acara itu sendiri berupa hataman Al-Quran, pembacaan surat
Yasin dan tahlil serta pembacaan diba' (sejarah kelahiran Nabi
Muhammad SAW). Sedangkan pada acara resminya, kemarin itu, Wali Kota
Pasuruan, Aminurrokhman dan beberapa ulama memberi siraman rohani.
Sekaligus pembacaan biografi singkat ulama yang dikenal dengan
sebutan Macan Putih alias Mbah Slagah ini.

Pembacaan diba' itu sendiri berlangsung cukup istimewa. Pasalnya
sejarah singkat yang menceritakan hal ihwal kelahiran nabi Muhammad
itu dibaca dengan iringan puluhan grup hadrah secara
bergantian. "Pembacaan salawat itu berlangsung hingga jam 02.00 dini
hari," kata Abu Hasan, ketua panitia pelaksana haul.

Uniknya juga, haul yang diselenggarakan setiap tahun oleh keluarga
bersama masyarakat di kawasan Pekuncen itu tanpa suguhan makanan bagi
para pengunjung. Berbeda dengan haul yang diselenggarakan warga
lainnya di tempat-tempat lain, biasanya panitia menyediakan makanan
bagi para tamu.

Hanya saja, masyarakat sekitar makam Mbah Slagah menyediakan makanan
berupa ketupat di masing-masing rumahnya. Nah, usai mengikuti acar
haul para pengunjung dipersilahkan singgah ke rumah yang disukai, dan
bisa menikmati hidangan yang telah disiapkan. "Suasanya beda dengan
haul yang pernah saya ikuti di tempat lain," kata salah seorang
pengunjung yang baru kali ini mengikuti acara haul itu.

Keunikan lainnya ada pada undangan. Dari ribuan pengunjung yang
tumplek blek pagi itu, tak satupun yang diundang. Baik undangan
kepada ulama, pemerintah maupun masyarakat. Mereka datang secara suka
rela mendengar dan menghayati secara khusyuk perjuangan tokoh pejuang
dan penyiar agama yang memiliki nama asli Mbah Hasan Sanusi ini.

"Mereka datang sendiri secara suka rela. Bahkan masyarakat Tionghoa
di sekitar juga ikut datang," tutur Abu kepada koran ini. Bahkan
masyarakat non pribumi ini juga tak ketinggalan memberi sumbangan
pelaksanaan haul. "Kalau tak diberi kesempatan nyumbang mereka malah
mengira tak dianggap sebagai warga," katanya pula. (ali)

peringatan hultah pasuruan

Keris Untung Suropati Diserahkan ke Pemkot


PASURUAN - Puncak peringatan Hari Jadi Kota ke-318 digelar meriah di
Taman Kota Pasuruan, kemarin pagi. Selain upacara dengan busana
tradisional, juga ada aneka hiburan mulai dari drum band, reog
Ponorogo, liang-liong, dan pencak silat. Acara penting yang baru
pertama kali diperingati itu juga ditandai penyerahan pusaka Untung
Surapati oleh tokoh masyarakat kepada Pemkot Pasuruan.

Ribuan warga Kota Pasuruan dan sekitarnya tumplek blek di sekitar
Taman Kota saat prosesi peringatan hari jadi Kota Pasuruan ke-318,
Minggu 8 Februari itu. Mereka tampak antusias mengikuti setiap
tahapan acara.

Sebelum upacara dimulai, arak-arakan seluruh pejabat Pemkot Pasuruan,
dan Muspida terlebih dulu berjalan dari arah kantor pemkot ke taman
kota. Mereka mengenakan busana khas Pasuruan. Yakni bersarung batik
warna merah, pakai udeng, dan atasan putih bersih. Sementara, isteri
mereka juga mengenakan pakaian serupa lengkap dengan kerudung
putihnya. Hampir sama persis dengan busana tradisional yang dikenakan
Untung Suropati dalam foto kepahlawanan nasionalnya.

Upacara yang terkesan sakral itu baru dimulai setelah seluruh pejabat
dan muspida berkumpul di Taman Kota. Mereka duduk di bawah tenda
khusus yang sudah tersedia. Selain para pejabat, sebagian pelajar
kota juga ikut khidmat mengikuti rangkaian upacara tersebut. Begitu
juga masyarakat yang sudah datang sejak pukul 07.30, tidak
ketinggalan memusatkan perhatian mereka pada upacara hari jadi
kotanya itu.

Apalagi saat pusaka Untung Surapati diserahkan pada Wali Kota
Aminurrokhman, seluruh mata tertuju pada prosesi itu. Mereka ingin
melihat dari dekat pusaka apa yang disebut sebagai peninggalan Untung
Surapati. Ternyata, pusaka itu berupa sebilah keris yang terlihat
sudah berumur cukup tua. Keris itu diserahkan seorang tokoh
masyarakat dengan penuh hormat pada wali kota. Oleh wali kota, keris
itu lantas diterimanya dan sekaligus disimpan dalam sebuah peti kotak.

Usai upacara tradisional itu, masyarakat dapat suguhan gratis. Apa
itu? Makan gratis yang sebelumnya didapat lewat pembagian kupon makan
gratis. Ada ribuan kupon yang disebar, dan hanya dalam 5 menit
semuanya ludes. Begitu mengantongi kupon panitia, masyarakat berduyun-
duyun ke arah jajaran kios yang memang sudah disiapkan, tepat di
depan taman kota.

Berbagai makanan khas rombong tersedia di sana. Ada bakso, lontong
kupang, mie ayam, mie pangsit, tahu campur Lamongan, dan juga aneka
minuman. Semuanya bisa dinikmati tanpa membayar uang sepeserpun.
Warga yang sudah mengikuti proses upacara itu hilir mudik, bebas
menentukan pilihan menu yang mereka inginkan.

Saking antusiasnya warga, seluruh makanan yang sudah diborong pemkot
juga ludes dalam sekejap. Bahkan beberapa orang yang masih memegang
kupon di tangan, tidak kebagian makan gratis. "Aku nggak kebagian
rek. Kuponnya masih ada lho, terus dikemanakan ini," ungkap Solihin
warga Bugul.

Malam harinya, pemkot masih menggelar resepsi hari jadi di gedung
Untung Surapati. Ada berbagai acara apresiasi seni dan budaya
masyarakat yang digeber di atas panggung megah. Yang istimewa, malam
itu ada tarian kolosal Untung Surapati yang ditarikan secara massal
oleh kalangan pelajar kota yang mengenakan kostum seragam khas,
pahlawan Untung Surapati. (via)


oleh oleh dari khaul kyai hamid

Rasul Muhammad SAW mengingatkan kita, agar menyebut dan
mengingat-ingat kebaikan orang yang sudah meninggal, terlebih para
shalihin, demi tercurahnya rahmat Allah ('Inda dzikrisshalihin
tanzilurrahmah).

Seperti dimaklumi, Pasuruan adalah kota santri, yang boleh dibilang
merupakan barometer umat Islam di Jatim. Memperbincangkan Pasuruan,
rasanya tak bisa lepas dari sosok Kiai Hamid. Waliyullah rendah hati
itu menjadi magnet tersendiri bagi umat Muhammad, khususnya nahdliyin.
Setiap peringatan wafat (haul) beliau digelar, puluhan ribu orang
menyemut.

Haul ulama asal Lasem Rembang itu merupakan satu dari sekian fenomena
yang ada di Pasuruan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, haul tahun ini,
Senin, 18/04 lalu, diperkirakan dihadiri sekitar 50 ribu "Muhibbin" (:
pecinta ulama), sehingga untuk mereka sekitar 7 ton beras harus
disediakan oleh shahibul bayt.

Yang juga menjadi ciri khas Pasuruan adalah kultur masyarakatnya yang
dikenal `café mania' (jangan digambarkan tempat remang-remang
ditingkah alunan musik menghentak, meski bisa jadi sekarang sudah
merambah). Warung "Padang Hawa" adalah tempat cangkruk mereka, ajang
tukar informasi hingga pembahasan segala hal, yang sudah ramai selepas
shalat subuh, hingga larut malam.

Dengan modal secangkir kopi `Arab' –memakai jahe dan kapulaga– dan
pisang goreng, mereka akan betah duduk berjam-jam. Apalagi ditambah
nasi plus sate Komo (sate daging sapi yang ukurannya besar). Maka,
sesekali jadilah mereka `pengamat' –yang konon memang salah satu
keahlian bangsa kita– tentang berbagai hal: dari persoalan sosial,
politik, olahraga, agama, dan lainnya.

Seperti mudah ditebak, usai haul al-`arif billah itu, obrolan
`pecangkruk' pun, di berbagai tempat, praktis membahas acara ritual
tahunan itu. Membicarakan sirah Kiai Hamid, minimal sudah melaksanakan
perintah Nabi: "Udzkuru mahasina mawtakum" (sebut dan ingat-ingatlah
kebaikan orang yang sudah meninggal, al-hadits). Apalagi dikatakan
`Inda dzikrishshalihin tanzilurrahmah (rahmat Allah akan turun jika
disebutkan –sejarah- orang-orang shaleh).

Setelah ngalor-ngidul memperbincangkan keseharian Kiai Hamid sebagai
cerminan hidup ini, salah seorang muhibbin dari luar Pasuruan yang
baru pertama kali hadir, mengungkapkan perasaan `tercengang'nya
melihat hadirin yang bejibun. Ia juga bangga bisa masuk lewat `pintu
khusus' bagi para kiai dan habaib yang jumlahnya ratusan itu, karena
ngatut seorang keponakan Kiai Hamid. Ia juga terkagum-kagum pada
pembicaranya, Menteri Agama RI, Maftuh Basuni yang menjlentrehkan
gregetnya dalam memberantas KKN di departemen yang dipimpinnya.

Topik pun pindah kamar: Menag beserta isi ceramahnya. "Tadi itu bukan
menteri yang ceramah, tapi kiai," sela seseorang sambil menyebut,
bagaimana sang menteri menyampaikan salam sang atasan (Presiden SBY)
secara spontanitas, di tengah-tengah ceramah tanpa teksnya itu.
Betul-betul `khas' kiai. (Karena Habib Luthfi bin Yahya, Rais `Aam
Jam'iyyah Thariqah Mu'tabarah Nahdliyah, berhalangan hadir, Menag pun
didaulat panitia tidak hanya memberikan sambutan, tapi juga mau'idzah
hasanah –satu istilah yang menurut Gus Dur salah kaprah digunakan).

"Yang menarik itu, Pak Maftuh –tidak disebut kiai– menjelaskan tentang
kiai sekarang, yang jauh dari definisi kiai dulu."

"Ya jelas beda. Dulu, tak gampang orang disebut kiai, jal (sebutan
khas Pasuruan, semacam `rek'). Kiai Hamid saja `butuh waktu' beberapa
tahun untuk disebut kiai. Sebelumnya hanya disebut Haji saja, meskipun
dari segi ilmu sudah sangat pantas, belum lagi karomahnya yang sudah
tampak."

"Kata orang-orang tua dulu, di satu desa itu, kalau ada yang menyebut
`kiai', berarti menunjuk ke satu orang saja (yang memang pantas
menyandang gelar itu). Jadi tidak usah disebut namanya."

"Lha saat Salafiyah (pesantren asuhan Kiai Hamid) dipimpin Kiai Yasin,
beliau dianggap satu-satunya kiai di sini (Pasuruan Kota). Ya betul
itu. Jadi ndak usah disebut Kiai Yasin, orang sudah tahu, yang
dimaksud `kiai' itu beliau, karena lainnya dianggap (masyarakat) belum
layak disebut kiai."

"Jadi ukurannya bukan hanya ilmu (kapasitas keilmuan)?"

"Ya jelas, jal!. Kiai kan istilah kerennya menjadi garda moral? Jadi
itu yang menjadi patokan utama, selain ilmu, dan terakhir (meski tidak
selalu) nasab."

"Wah kalau sekarang, bisa pidato (ceramah) saja sudah disebut kiai."

"Makanya, kata pengamat (berarti sama dengan dia sendiri!), sekarang
ini ada tiga macam kiai. Ada yang `bikinan' masyarakat. Ini yang
orisinil. Ada yang bikinan koran dan televisi, ada yang bikinan
sendiri. Ha ha..."

"Berarti benar yang disampaikan Kiai Maftuh tadi. Bahwa kalau Kiai
Hamid mau, beli apa saja bisa. Dulu itu, tahun 70-an, Kiai Hamid
pernah dikasih pengusaha dari Jakarta Rp 1 milyar, tapi disuruh
mengembalikan. Kalau dikurs sekarang berapa milyar ya?"

"Coba kiai sekarang…"

"Ya kata Menteri tadi: kiai mana yang tidak mau Mercedes?"

"Ini pertanda apa, Gus?"

"Secara umum, Kanjeng Nabi dhawuh, Khairul quruni qarni dst. Jadi
memang kualitas umat semakin menurun, termasuk ulamanya."

"Berarti ya sudah, diamkan saja. Toh itu sunnatullah, pasti terjadi.
Kebetulan saja kita yang mengalami."

"Ya tidak bisa begitu. Kita tidak boleh menyerah. Kita tetap harus
mengupayakan yang terbaik, malah lebih baik dari sebelumnya."

"Lha iya, zaman terus berubah. Kan sudah risikonya menjadi kiai
menghadapi pergeseran nilai itu?"

"Makanya kiai pun harus mengembangkan dirinya, yang positif maksudnya.
Karena kiai tetap bertanggung jawab atas kondisi umat yang dipimpinnya."

"Wah, berat juga jadi kiai, ya?"

"Dul-dul.. kamu kira enak? Makanya tidak gampang jadi kiai."

"Tapi kalau melihat (kiai) sekarang ini, ya enak juga. Sering masuk
tivi, koran. Dipikir-pikir kayak artis juga, ya?"

"Berarti ada satu model kiai lagi, yaitu kiai artis."

"Ya itu termasuk yang dinamakan bikinan koran dan tivi tadi!"

"Ya enak dong jadi kiai. Sering ditamui pejabat, ada oleh-olehnya lagi."

"Ya ndak papa. Imam Ghazali dhawuh, sejelek-jelek kiai (ulama su'),
yaitu yang datang ke umara, bukan sebaliknya."

"Tapi (yang datang ke umara) juga banyak kan? Ya, masak pejabatnya
saja yang bertamu. Kiainya kan tidak etis kalau tidak membalas
silaturahmi? Sabda Nabi, silaturahmi kan melapangkan rejeki?"

"Kata sebagian kiai, menerima oleh-oleh itu bukan KKN, money politics."

"Kalaupun secara fikih begitu (halal), tapi secara moral bagaimana?"

"Lha iya, kalau kiainya saja sudah begitu, bagaimana kita? Kita kan
itba' (mengikuti) ulama?"

"Pantas saja kalau bencana gonti-ganti, ndak ada habisnya."

"Bukan begitu. Kalau bagus, ya ikuti, meskipun dari pengemis. Kalau
jelek, jangan diambil dan ditiru, meski dari kiai."

"Jadi yang dikatakan, orang NU itu terkenal patronasenya, sudah
saatnya dihilangkan?"

"Ya tidak harus diberangus gitu. Almuhafadzatu `alal qadimis shalih
wal-akhdhu bil jadiil ashlah saja. Yang penting, kita harus semakin
cerdas, kritis menanggapi semua fenomena, termasuk kiai."

"Waduh, jadi sekarang kiai termasuk fenomena ya? Hebat!"

"Iya. Masa gara-gara bisa menerawang (punya indra keenam), sudah
dibilang wali. Padahal, dukun pun bisa."

"Itu yang namanya istidraj, bukan karomah."

"Repotnya, sudah sulit menemukan kiai yang mau peduli dengan persoalan
mendasar umat Islam. Jangan-jangan, tetangganya kekurangan, sakit,
tidak tahu. Mereka sudah sibuk dengan urusan pribadi. Kalau toh
peduli, paling-paling yang `melangit'. Pilkada, bisnis…"

"Husy! Tidak semua kiai begitu."

"Jadi kalau umat Islam banyak yang rusak, yang judilah, togel,
prostitusi, kemiskinan, narkoba; kiai nanti diminta
pertanggungjawabannya?"

"Ya pasti ditanya…, kalau dia sudah melakukan amar makruf nahi munkar,
baru bebas."

"Wa-illa (kalau tidak)?"

"Ya…, ngeri juga membayangkan banyak kiai yang `mampir' di neraka."

"Wah, sudah-sudah. Kok belum-belum sudah menghakimi orang, kiai lagi!
Kayak malaikat atau wali saja."

"blablablablabla…."

Astaghfirullahal `Adzim…

Setelah sekian jam, satu persatu dari mereka undur diri. Ada yang mau
shalat. Ada yang urusan bisnis: melihat sepeda motor tetangganya yang
katanya dijual –makelaran, istilah kerennya Mc Laren. Ada yang di-sms
istrinya, dan sebagainya. Obrolan pun berhenti, tapi bukannya terus
hilang. Besoknya, bisa jadi ada Jilid 2, 3, dan seterusnya. Wallahu A'lam.

[Washiel Hifdzy Haq, Redaktur Tabloid PBNU Warta]

http://www.dutamasyarakat.com/detail.php?id=20558&kat=UTAMA

bola berdarah

MADIUN - Sepak bola nasional kembali menanggung lara. Penyakit klasik bernama bentrokan antarsuporter itu kemarin terjadi di dan sekitar Stadion Wilis, Kota Madiun, Jawa Timur. Akibatnya, pertandingan divisi utama Wilayah Barat Liga Indonesia (Ligina) XI yang mempertemukan Persekabpas Pasuruan dan Arema Malang batal digelar.

Laga yang sedianya kemarin digelar mulai pukul 15.30 WIB itu ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. Seperti diketahui, karena stadion yang dipakai berlaga pada Divisi I lalu, Stadion Pogar di Bangil, dinilai belum layak untuk arena divisi utama, Persekabpas memutuskan menjadikan Stadion Wilis sebagai home ground-nya.

Bentrokan kemarin tidak hanya membatalkan laga, tapi juga membuat fasilitas Stadion Wilis rusak berat (baca kronologi Ketika Wilis Membara). Stadion yang dibangun dengan dana sekitar Rp 30 miliar itu mengalami kerusakan parah mulai dari tribun VIP, besi pemisah penonton, hingga pecahnya kaca-kaca di ruang bawah tribun utama.

Jeruji besi pemisah dengan lapangan pun roboh. Peralatan siaran panitia berupa sound system hancur. Di ruangan lobi utama tempat masuk pemain, pecahan kaca berserakan. Pemandangan miris kehancuran stadion ini begitu nyata di tempat penonton kelas ekonomi. Separo pagar pembatas penonton dengan lapangan yang mengitari seluruh kawasan tribun selatan dan timur, roboh.

Kaca-kaca di tempat itu, juga hancur. Tak sedikit pintu masuk juga jebol. Di luar stadion, pohon-pohon yang baru tumbuh dipotongi. Jaring gawang tak luput dari aksi ini. Di beberapa tribun ekonomi dan VIP juga terlihat aksi bakar membakar. Hampir semua pernik dan bando di sekeliling lapangan dibakar habis tak tersisa. Begitu pula puluhan kursi merah di tribun VIP.

Bupati Pasuruan, yang bertindak sebagai Manajer Persekabpas Wilis FC, Jusbakir Aldjufri, menyesalkan tindakan kerusuhan ini. Dia tidak mau ada sikap saling menyalahkan di antara suporter, baik itu Sakeramania, julukan suporter Persekabpas, maupun Aremania.

"Saya sangat sedih dan kecewa dengan kejadian ini. Padahal, sebelumnya saya berangkat dengan hati senang karena dua suporter sudah sepakat damai," tegasnya.

Sebelumnya memang lahir kesepakatan damai antara dua kelompok suporter itu. Tapi, di luar dugaan kerusuhan masih terjadi juga. Gejolak massa ternyata lebih kuat ketimbang dorongan damai.

Setelah ketegangan dirasa memuncak, pihak Panpel Persekabpas Wilis FC menggelar rapat mendadak. Rapat yang diselenggarakan di Hotel Bali, Madiun, ini dihadiri perwakilan kedua tim, Pengawas Pertandingan (PP) PSSI, kru wasit, unsur Panpel, dan aparat keamanan.

Rapat ini bertujuan untuk menegaskan apakah pertandingan jadi digelar atau tidak. Sebab, melihat suasana jelang pertandingan sudah sulit dikendalikan. Di dalam Stadion Wilis sendiri, mayoritas dikuasai Aremania sebagai suporter tamu yang sebelumnya hanya dijatah 1.000 tiket suporter.

Dari perwakilan ofisial tim Persekabpas diwakili manajer tim Jusbakir bersama asistennya, Udik Djanuantoro, dan penasehat teknis, Abubakar Asyyegaaf. Sedangkan dari kubu Arema diwakili ketua PS Arema Satrio Budi Wibawa, manajer Gandhi Yogatama, dan arsitek tim Benny Dollo. Dari unsur keamanan Madiun diwakili Kabag Ops Polwil Madiun, Kompol M Muklas.

Rapat kemudian dipimpin PP PSSI Kuncoro Jakti. Rapat berlangsung tertutup dan hanya berlangsung sekitar 45 menit. Melihat situasi dan kondisi yang berkembang, pihak keamanan tidak menjamin pertandingan akan dilangsungkan. Pihak keamanan yang hanya berkekuatan sekitar 810 personel merasa tidak mampu menguasai jika pertandingan bakal dilangsungkan.

Seusai pertemuan, PP PSSI Kuncoro Jakti mengakui jika ditundanya partai itu karena semata-mata tidak ada jaminan dari aparat keamanan. "Kami sudah merapatkan hal itu dengan semua komponen yang ada. Perwakilan tim juga datang. Hasilnya, pertandingan ini memang tidak bisa kita langsungkan karena pihak keamanan tidak menjamin jika dilakukan," tukas Kuncoro kemarin.

Justru, karena penundaan itu pula yang membuat suporter marah dan merusak fasilitas stadion yang mengundang keprihatian serius Wali Kota Madiun Kokok Raya, Wakil Wali Kota Gandhi Yoeninta, Sekkota Suparminto, Asisten I Karyono, Kepala Satpol PP Soekarman, Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan (DKP) Trubus Rekso Dirdjo.

Wakil Wali Kota Gandhi Yoeninta saat dikonfirmasi seputar kerusakan di Stadion Wilis enggan menyebut besaran kerugian dengan alasan masih diidentifikasi. "Kita masih akan mendata. Yang jelas, dengan peristiwa ini, kita sangat prihatin," terang Gandhi.

Dia memperkirakan, peristiwa itu terjadi karena minimnya komunikasi kedua belah pihak. "Kita belum bisa menentukan sikap, apakah akan bisa dipakai pertandingan lagi atau tidak. Kondisi ini akan kita sampaikan dulu ke Pak Wali, lalu bagaimana langkah selanjutnya," ungkapnya. (irw/eba/ace)


KRONOLOGI KERUSUHAN

Sabtu, 9 April 2005
Pukul 20.30
- Sebanyak 420 Aremania turun di Stasiun KA Madiun dengan menggunakan KA Matarmaja. Mereka berjalan kaki ke stadion.
Pukul 21.00

- Sekelompok Sakeramania sudah di Stadion dan bertemu Aremania.

- Terjadi ketegangan antara dua kelompok suporter tersebut. Beruntung aparat keamanan keamanan sudah mengantisipasinya.

Pukul 23.30
- Sempat terjadi aksi lempar di sekitar perempatan Klegen, Kota Madiun

Minggu, 10 April 2005
Pukul 01.00
- Aremania bersepeda motor konvoi di sekitar stadion dan memancing emosi Sakeramania.

Pukul 05.30
- Terjadi bentrok antarsuporter di Jalan Mastrip. Tepatnya di sekitar stadion dan diwarnai letusan petasan dan aksi lempar bom molotov. Aksi ini sempat membuat kawasan stadion tegang.

Pukul 07.00
- Terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas di Desa Garon Balerejo, Madiun. Akibatnya, seorang Aremania tewas. Kejadian ini menyulut emosi ribuan Aremania yang mulai masuk Madiun.

Pukul 08.00
- Bentrok kedua di sekitar stadion. Dalam bentrok ini seorang Aremania terluka lantaran bom molotov dan sebuah kendaraan angkutan kota Madiun rusak.

Pukul 09.30
- Ribuan Aremania dan Sakeramania mulai berdatangan masuk Madiun.

Pukul 10.00
- Seorang Sakeramania yang melintas di kelompok Aremania di perempatan Klegen dipukuli. Begitu juga dengan dua orang warga Nglames Madiun yang terkena pukulan serta sepeda motornya dirusak.

Pukul 11.00
- Aremania bergerombol di perempatan Klegen dan Jalan Setia Budi.

- Sakeramania dengan menggunakan puluhan bus mulai masuk area parkir stadion di sebelah utara.

Pukul 12.00
- Aremania mulai antri masuk ke stadion. Namun masih ditahan petugas.

Pukul 13.00
- Pintu penonton ekonomi sebelah selatan jebol. Ribuan suporter Aremania masuk tanpa karcis. Aremania kuasai stadion. Sementara ribuan Sakeramania tampak terkonsentrasi di sebelah utara.

Pukul 13.30
- Terjadi aksi perang batu antara Aremania yang berada di dalam stadion dan suporter Sakeramania di area parkir stadion. Jatuh korban luka-luka lantaran kena lemparan batu di kedua belah pihak.

Pukul 14.00
- Sakeramania mencoba masuk ke stadion. Mereka langsung dikejar Aremania yang saat itu menguasai dalam stadion. Aksi lempar batu masih berlangsung.

Pukul 14.15
- Ribuan Aremania mencoba mengejar Sakeramania. Lantaran kalah jumlahnya, Sakeramania berhamburan dan berlari ke arah utara Jalan Parikesit, Jalan Udowo hingga ke Jalan Rimba Raya.

- Aremania pun terus mengejar dan menyebabkan ribuan Sakeramania meninggalkan area Stadion Wilis.

- Di Jalan Parikesit sesekali terlihat korban aksi pelemparan ditandu Aremania untuk mendapatkan pertolongan.

Pukul 14.30
- Sebagai pelampiasan emosi beberapa oknum Aremania menghancurkan mobil dan beberapa bus yang diparkir.

Pukul 14.45
- Panpel, pengawas pertandingan, wasit, perwakilan kedua kesebelasan, dan aparat keamanan melakukan pertemuan di Hotel Bali. Akhirnya dalam pertemuan tersebut disepakati kalau pertandingan antara Persekabpas Wilis FC melawan Arema Malang ditunda hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Pukul 15.00
- Aremania yang menguasai stadion tampak mulai memadati tribun VIP dan ekonomi. Mereka bernyanyi mendesak panpel untuk segera menggelar pertandingan.

Pukul 16.00
- Aremania mulai turun tribun. Kesal lantaran pertandingan batal, mereka melampiaskan dengan merusak fasilitas stadion.

Pukul 17.30
- Aremania berangsur-angsur mulai meninggalkan Stadion dan pulang ke Malang. (eba)


from jawapos

Aremania Mengamuk, Pertandingan Arema-Pasuruan Ditunda

Liputan6.com, Madiun: Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia (Ligina) kembali tercoreng dengan ulah para suporter. Kali ini ribuan suporter Arema Malang yang dikenal dengan Aremania mengamuk dan sempat bentrok dengan pendukung Persekabpas Pasuruan di Stadion Wilis, Madiun, Jawa Timur, Ahad (10/4). Kerusuhan membesar setelah panitia pertandingan memutuskan menunda pertarungan dua kesebelasan. Satu orang pendukung Arema dikabarkan tewas dan belasan lainnya luka-luka dalam insiden tersebut.
Ribuan Aremania sudah berdatangan ke stadion sejak siang hari. Bahkan dikabarkan pendukung Arema dari luar kota sudah nongkrong sehari sebelumnya, Sabtu. Di kubu lawan, ribuan suporter Persekabpas Pasuruan pun mulai bermunculan dari sisi utara dan timur luar stadion.

Gelagat keributan sudah mulai terlihat saat suporter Persekabpas Pasuruan yang tertahan di luar melemparkan batu ke arah massa Aremania yang sudah berada di dalam stadion. Aremania tunggang langgang menyelamatkan diri. Sementara yang lainnya justru balas menyerang pendukung Laskar Sakera--julukan Persikabpas Pasuruan. Aksi saling lempar batu pun tak terelakkan.

Akibat aksi saling lempar batu tadi, sedikitnya 14 suporter harus dirawat di rumah sakit. Satu pendukung Arema dikabarkan tewas. Korban yang sempat terkapar menjadi bulan-bulanan pendukung Persikabpas Pasuruan. Kericuhan akhirnya bisa diredam setelah gabungan personel Kepolisian Wilayah Madiun dan Kepolisian Resor Kota Madiun memisah dua kelompok yang bentrok. Polisi lantas menggiring pendukung Persekabpas ke luar Kota Madiun, untuk mengantisipasi kericuhan lebih besar. Puluhan bus yang disewa pendukung Persikabpas rusak akibat lemparan batu Aremania.

Praktis setelah kerusuhan tersebut, Stadion Wilis dikuasai massa Aremania. Mereka naik ke tribun untuk menunggu jalannya pertandingan. Namun panitia memutuskan menunda pertandingan dengan pertimbangan keamanan. Keputusan itu justru memicu kembali keributan. Ribuan Aremania kembali mengamuk dengan merusak fasilitas stadion, sebagian di antaranya dibakar.

kyai hamid falsafahnya pohon kelapa

kyai hamid falsafahnya pohon kelapa

Orang mengenal Kiai Hamid karena beliau dikenal sebagai seorang wali.
Dan orang mengatakan wali – biasanya – hanya karena keanehan
seseorang. Tidak banyak yang tahu tentang sejatinya beliau. Nah !
Dalam rangka memperingati haulnya pada bulan Mei ini kami turunkan
sekelumit tentang beliau.
Seperti halnya orang mengenal Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani sebagai
sultanul auliya', tidak banyak yang tahu bahwa sebetulnya Syekh Abdul
Qodir adalah menguasai 12 disiplin ilmu. Beliau mengajar ilmu qiraah,
tafsir, hadits, nahwu, sharaf, ushul fiqh, fiqh dll. Beliau sendiri
berfatwa menurut madzhab Syafi'I dan Hanbali. Juga Sahabat Umar bin
Khattab, orang hanya mengenal sebagai Khalifah kedua dan Panglima
perang. Padahal beliau juga wali besar. Beliau pernah mengomando
pasukan muslimin yang berada di luar negeri cukup dari mimbar Masjid
di Madinah dan pernah menyurati dan mengancam sungai Nil di Mesir
yang banyak tingkah minta tumbal manusia, hingga nurut sampai
sekarang.
Kiai Abdul Hamid yang punya nama kecil Abdul Mu'thi lahir di Lasem
Rambang Jawa Tengah tahun 1333 H bertepatan dengan tahun 1914 M. dari
pasangan Kiai Abdullah bin Umar dengan Raihanah binti Kiai Shiddiq.
Beliau yang biasa dipanggil Mbah Hamid ini adalah putra keempat dari
12 saudara.
Seperti umumnya anak cerdas, Hamid pada waktu kecil nakalnya luar
biasa, sehingga dia yang waktu kecil dipanggil Dul ini panggilannya
dipelesetkan menjadi Bedudul. Kenakalannya ini dibawa sampai
menginjak usia remaja, dimana dia sering terlibat perkelahian dengan
orang China yang pada waktu itu dipihak para penjajah. Pernah suatu
saat dia ajengkel melihat lagak orang China yang sombong, kemudian
orang China tersebut ditempeleng sampai klenger. Karena dia dicari-
cari orang China kemudian oleh ayahnya dipondokkan ke Termas Pacitan.
Sewaktu dia belajar di Termas sering bermain ke rumah kakeknya, Kiai
Shiddiq di Jember dan kadang-kadang bertandang ke rumah pamannya Kiai
Ahmad Qusyairi di Pasuruan. Sehingga, sebelum dia pindah ke Pasuruan,
dia sudah tidak asing lagi bagi masyarakat disana.
Setelah di pesantren Termas dipercaya sebagai lurah, Kiai Hamid sudah
mulai menampakkan perubahan sikapnya, amaliyahnya mulai instensif dan
konon dia suka berkhalwat disebuah gunung dekat pesantren untuk
membaca wirid. Semakin lama, dia semakin jarang keluar kamar. Sehari-
hari di kamar saja, enath apa yang diamalkannya. Sampai kawan-
kawannya menggoda . Pintu kamarnya dikunci dari luar. Tapi, anehnya
dia bisa keluar masuk.
Tawadlu' dan Dermawan.
Kiai Hamid yang kemudian diambil menantu Kiai Qusyairi adalah sosok
yang halus pembawaannya. Meski sebagai orang alim dan menjadi menantu
kiai, beliau tetap tawadlu' (rendah hati). Suaranya pelan dan sangat
pelan. Ketika apa saja apelan, entah mengajar, membaca kitab,
berdzikir, shalat amaupun bercakap-cakap dengan tamu. Kelembutan
suaranya sama persis dengan kelembutan hatinya. Beliau mudah sekali
menangis. Apabila ada anaknya yang membandel dan akan memarahinya,
beliau menangis dulu, akhirnya tidak jadi marah. "Angel dukane,
gampang nyepurane", kata Durrah, menantunya.
Kebersihan hatinya ditebar kepada siapa saja, semua orang merasa
dicintai beliau. Bahkan kepada pencuri pun beliau memperlihatkan
sayangnya. Beliau melarang santri memukuli pencuri yang tertangkap
basah di rumahnya. Sebaliknya pencuri itu dibiarkan pulang dengan
aman, bahkan beliau pesan kepada pencuri agar mampir lagi kalau ada
waktu.
Sikap tawadlu' sering beliau sampaikan dengan mengutip ajaran Imam
Ibnu Atha'illah dalam kitab Al-Hikam; "Pendamlah wujudmu di dalam
bumi khumul (ketidakterkenalan)". Artinya janganlah menonjolakan
diri. Dan ini selalu dibuktikan dalam kehidupannya sehari-hari. Bila
ada undangan suatu acara, beliau memilih duduk bersama orang-orang
biasa, di belakang. Kalau ke masjid, dimana ada tempat kosong disitu
beliau duduk, tidak mau duduk di barisan depan karena tidak mau
melangkahi tubuh orang.
Kiai Hamid yang wafat pada tahun 1982 juga dikenal sebagai orang yang
dermawan. Biasanya, kebanyakan orang kalau memberi pengemis dengan
uang recehan Rp. 100,-. Tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau
kalau memberi tidak melihat berapa uang yang dipegangnya, langsung
diserahkan. Kalau tangannya kebetulan memegang uang lima ribuan, ya
uang itu yang diserahkan kepada pengemis. Tak hanya bentuk uang, tapi
juga barang. Dua kali setahun beliau selalu membagi sarung kepada
masing-masing anggota keluarga.
Orang Alim
Biasanya orang yang terkenal dengan kewaliannya hanya dipandang dari
kenyentrikannya saja. Tapi tidak demikian dengan Kiai Hamid, beliau
dipandang orang bukan hanya dari kenylenehannya, tapi dari segi
keilmuannya, beliau juga sangat dikagumi banyak kiai. Karena, memang
sejak dari pesantren beliau sudah terkenal menguasai berbagai
disiplin ilmu, mulai dari ilmu kanoragan, ketabiban, fiqih, sampai
ilmu Arudl beliau sangat menguasai. Terbukti beliau juga menyusun
syi'iran.
Karena kedalaman ilmunya itu, masyarakat meminta beliau menyediakan
waktu untuk mengaji. Akhirnya beliau menyediakan waktu Ahad pagi
selepas subuh. Adapun kitab yang dibaca kitab-kitab tasawwuf, mulai
dari yang kecil seperti kitab Bidayatul Hidayah, Salalimul Fudlala'
dan kemudian dilanjutkan kitab Ihya'.
Didalam mendidik atau mengajar, Kiai Hamid mempunyai falsafah yang
beranjak dari keyakinan tentang sunnatullah, hukum alam. Ketika ada
seorang guru mengadu bahwa banyak murid-muridnya yang nilainya merah.
Beliau lalu memberi nasehat dengan falsafah pohon kelapa. "Bunga
Kelapa (manggar) kalau jadi kelapa semua yang tak kuat pohonnya atau
buahnya jadi kecil-kecil" katanya menasehati sang guru. "Sudah
menjadi sunnatullah," katanya, bahwa pohon kelapa berbunga (manggar),
kena angin rontok, tetapi tetap ada yang berbuah jadi cengkir.
Kemudian rontok lagi. Yang tidak rontok jadi degan. Kemudian jadi
kelapa. Kadang-kadang sudah jadi kelapa masih dimakan tupai.
Ijazah-ijazah
Seperti kebanyakan para kiai, Kiai Hamid banyak memberi ijazah
(wirid) kepada siapa saja. Biasanya ijazah diberikan secaara langsung
tapi juga pernah memberi ijazah melalui orang lain. Diantara ijazah
beliau adalah:

Membaca Surat Al-Fatihah 100 kali tiap hari. Menurutnya, orang yang
membaca ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang terduga.
Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali, selepas shalat
Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20 kali, setelah Maghrib 15 kali dan
setelah Isya' 10 kali.
Membaca Hasbunallah wa ni'mal wakil sebanyak 450 kali sehari semalam.
Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid
adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat.
Membaca kitab Dala'ilul Khairat. Kitab ini berisi kumpulan shalawat.
(m.muslih albaroni)

pondok metal

pondok metal

JANGAN bayangkan ketika masuk lingkungan Pondok Metal (Menghafal Alquran) di Desa Rejoso Lor, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Anda akan disambut santri dengan kain sarung, baju koko, dan kopiah, sebagaimana terdapat di Pondok Salafiyah atau pondok modern umumnya.
Pondok Metal asuhan KH Abu Bakar Kholil boleh dikatakan sebagai pondok yang memiliki ciri khusus. Sebab, santri atau santriwati yang ''belajar'' di pondok tersebut rata-rata mengidap penyakit sosial dan psikologi kelas berat.
''Saya melakukan ini demi Allah dan karena kemanusiaan,'' ujar Kiai Abu Bakar di pondoknya, Senin (28/3). Mengenakan baju lengan panjang cokelat yang sejenis dengan celana panjangnya, kiai yang baru berusia 31 tahun ini menceritakan latar belakang dan visinya sampai membangun dan mengelola Pondok Metal.
''Jangan asosiasikan metal dengan musik rock lho ya. Metal di sini artinya menghafal Alquran,'' kata ayah 3 anak, buah pernikahannya dengan Lutfiyah.
Pondok Metal berdiri sejak 1999 di atas lahan sekitar 9,5 hektare. Awalnya pendirian pondok ini mengkhususkan diri pada santri atau santriwati yang terjerat kasus narkoba. Namun, dalam perkembangannya, banyak juga wanita hamil pranikah, korban fitnah santet, dan orang-orang gila (orgil) yang ditampung di pondok ini.
''Ya sejak 3 bulan atau 4 bulan lalu, pondok kami menerima orang gila. Setelah informasi itu di-blow up sedemikian rupa oleh banyak media, banyak orang dari luar kota yang ingin menitipkan anggota keluarganya yang stres atau gila ke pondok kami.''
Menurut dia, ratusan telepon dan SMS masuk ke ponselnya setiap hari. ''Namun pada tahap sekarang saya memprioritaskan menangani dan membina orang gila yang tak terurus dan hidup di jalanan,'' jelas Kiai Abu Bakar.
Orgil ini datang dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Kiai Abu Bakar mengemukakan, justru orgil yang keleleran di sekitar Kabupaten/Kota Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Malang, dan daerah lainnya sekitar Pasuruan kebanyakan dari luar Jatim. ''Ada juga orgil dari Jateng, seperti Semarang dan Pekalongan.''
Slamet (60), orgil yang mengaku dari DI Yogyakarta, telah berada di Pondok Metal selama 2 bulan. ''Saya diambil di Kota Malang,'' katanya. Dia tak tahu kok bisa sampai di Kota Apel tersebut. Yang jelas, sekarang perilaku dan sikap Slamet sebagaimana layaknya orang waras. ''Tapi, kulo kerasan teng mriki (saya kerasan di sini),'' katanya sambil mengisap rokok dalam-dalam.
Kini, jumlah orgil yang ditampung di Pondok Metal ada 348 orang. Kiai Abu Bakar menyatakan, jumlah orgil itu terus bertambah, karena hampir setiap hari menerima kiriman paket orgil minimal empat orang. ''Biasanya orgil itu dijatuhkan dari truk dekat pintu gerbang pondok. Jadi, ketika kita temukan orgil itu ada yang bibirnya robek, kakinya patah, sikutnya luka, dan lainnya,'' ujarnya.
Dan orgil yang telah cukup lama di pondok, namun perkembangan kesehatan fisik dan jiwanya bergerak ke arah normal, umumnya keberatan pulang. Bahkan, keluarganya tak mau mengambilnya, walaupun telah dihubungi pihak pondok. ''Jadi, penghuninya terus bertambah. Asrama pondok sampai tak mampu menampung.''
Mengingat keterbatasan ruang di asrama orgil, orang pertama di Pondok Metal yang alumnus Pondok Al Hidayat Lasem, Rembang, asuhan KH Machsoem ini menolak kiriman orgil dari kalangan keluarga. Maksudnya, banyak keluarga yang mengirimkan salah satu anggota keluarganya yang stres berat untuk dibina di pondok ini. ''Saya tak mau menerima pasien stres berat seperti itu. Sebab, pasien kayak gitu maunya makan enak dan rokok yang mahal. Padahal, di sini kami menyediakan makan sederhana dan rokok yang hanya Rp 7.500 per slop.''
Setiap hari juru masak pondok harus menanak nasi sekitar 90 kilogram sampai satu kuintal. Nasi sebanyak itu untuk memenuhi kebutuhan makan sekitar 340 santri yang orgil, santri narkoba, santri pranikah, dan santri korban fitnah santet. Untuk jumlah santri narkoba mencapai sekitar 1.000 orang sejak pondok berdiri 1999 sampai awal tahun ini. Sedangkan santri wanita hamil pranikah dan melahirkan di pondok sebanyak 79 orang. Di samping itu, santri lelaki menerima 2 batang rokok setiap hari. ''Masalah sayur dan lauk-pauknya, ya kita usahakan ada setiap hari. Ya kadang dikasih telur, ikan laut, tahu, tempe, dan lainnya.''
Sekitar 4 hari lalu ada wanita hamil pranikah melahirkan di sini. Ibunya telah pergi dan tak mau menyebutkan alamatnya secara jelas. Dan sekarang masih ada 3 wanita hamil pranikah yang menghuni di pondok ini. Suara Merdeka yang diberikan kesempatan melihat langsung asrama wanita hamil pranikah juga menyaksikan ada wanita muda sedang hamil sekitar 8 bulan. Sang wanita itu langsung memalingkan mukanya ketika dilihat. Dia keberatan diabadikan.
''Jangan dipotret,'' katanya.
Mengasuh pondok dengan santri-santriwati istimewa semacam itu ternyata tak dinilai sebagai pekerjaan berat oleh Kiai Abu Bakar. Dorongan istri dan keluarganya membuat dia mampu menanggung beban ekonomi, mental, dan sosial atas peran mulianya tersebut. Selama ini Pondok Metal hidup dari jerih-payah sendiri. Sangat kecil bantuan yang diberikan pemerintah. Wakil Bupati Pasuruan sekali pernah membantu Rp 1 juta, sedangkan Bupati Pasuruan pernah memberikan bantuan beras 3 kuintal dan uang Rp 5 juta. ''Pondok Metal afiliasi politiknya bebas, tak mendekat ke partai tertentu,'' tandasnya.(Ainur Rochim-33t)
http://www.suaramerdeka.com/harian/0503/29/nas

Mengenang KH Abdul Ghofur, Pendiri Ponpes Miftahul Ulum Al Ghofuri Pasuruan

Mengenang KH Abdul Ghofur, Pendiri Ponpes Miftahul Ulum Al Ghofuri Pasuruan
Umur Tujuh Tahun Sudah Hapal Alfiyah
Almarhum KH Abdul Ghofur bukan hanya milik keluarga. Namun dia juga dimiliki para santrinya dan warga Kota Pasuruan. Banyak kekaguman keluarga dan satrinya terhadap pendiri ponpes Miftahul Ulum Al Ghofuri itu. Bagaimana pandangan keluarga santrinya terhadap KH Abdul Ghofur?

PUJI ANUGERAH L., Pasuruan
-----

Hari ini adalah haul KH Abdul Ghafur yang ke-4. Malam ini juga akan digelar acara haul istrinya, Nyai Hj Munawaroh, yang ke-16. Di mata keluarga, keduanya adalah sosok panutan. Tidak hanya sebagai orang tua, tapi juga sebagai guru, kiai dan nyai.

Keluarganya menyimpan banyak kekaguman terhadap mendiang Kiai Ghofur (panggilan KH Abdul Ghofur semasa hidup, Red). Para santrinya juga memiliki kekaguman serupa.

Kiai Ghofur wafat di usia 91 tahun, tepatnya pada 21 Juni 2001 lalu (29 Rabiul Awal 1422 H). Di usianya yang sudah uzur, dia masih menyempatkan diri untuk mengajar muridnya. Hingga sakit karena usia menyebabkan dia harus berhenti mengajar. Selama sakit, dia sempat dirawat di RSUD dr Soedarsono, Pasuruan. Setelah itu berpindah ke RS Aisyah, Malang. Dia juga sempat di rawat di RS Lavalette, Malang.

Setelah dirasa agak mendingan, Kiai Ghofur dibawa pulang. Namun, tidak beberapa lama, dia kembali harus dibawa ke RS Saiful Anwar, Malang. Dan kondisi yang tidak menentu, menyebabkan keluarga memutuskan Kiai Ghofur untuk dibawa pulang. "Selasa, Abah (Kiai Ghofur, Red) dibawa pulang. Kamisnya, jam 16.05, beliau meninggal," kenang H Abdul Majid Syarif, menantu Kiai Ghofur.

Setelah itu, jenazah Kiai Ghofur dimakamkan di kompleks pemakaman Masjid Jamik. Makamnya disejajarkan dengan makam KH Abdul Hamid. "Karena ada aturan, hanya takmir masjid Jamik yang boleh dimakamkan di sana. Dan, kebetulan Abah pernah menjadi takmir masjid," ujar Abdul Madjid.

Suami Hj Robi’ah Al Adawiyah itu menceritakan bahwa semasa muda, Kiai Ghofur adalah teman dekat Kiai Hamid, pendiri ponpes Salafiyah, Kota Pasuruan. Dia juga teman dekat KH Abdul Haq, dari Siwalan Panji, Sidoarjo. Keluarga juga menceritakan, pada saat Kiai Ghofur menjadi santri di Ponpes Tebu Ireng, Jombang, dia pernah menjadi teman sebangku KH Wahid Hasyim, Ayah Gus Dur.

Dalam perjalanan hidupnya, Kiai Ghofur pernah mendalami ilmu di Kiai Cholil, Bangkalan Madura. Setelah itu dia kembali ke Pasuruan, dan mondok di Kelurahan Genthong, Kecamatan Gadingrejo. Bahkan dia juga pernah menuntut ilmu di Lasem, Rembang, Jateng. Baru setelah itu berlanjut di Termas, Pacitan.

Setelah itu menikah dengan Nyai Hj Munawaroh, dari Malang. Dan, oleh mertuanya, KH Anwar, dia mendapatkan tanah untuk dibangun Ponpes. Hingga lahirlah Ponpes Miftahul Ulum Al Ghofuri di Jl Imam Bonjol, Kelurahan Bugul Lor, Kecamatan Bugul Kidul Kota Pasuruan. Sementara, kiai Pasuruan yang pernah menjadi santri Kiai Ghofur antara lain Gus Idris, putra Kiai Hamid. Lalu, Gus Bakar, pengasuh Ponpes Metal Muslim.

Yang menjadi kekaguman keluarga yakni Kiai Ghofur sudah mampu menghafal Alfiyah dalam usia baru tujuh tahun. Padahal, ilmu yang mempelajari pemahaman ilmu alat baca Alquran itu sangat sulit dipelajari. Bahkan hingga sekarang pelajaran Nahwu Alfiyah adalah pelajaran yang diberikan pada siswa dalam taraf tsanawiyah.

Apa penyebabnya? Keluarga hingga sekarang tidak mengetahui penyebabnya. Keluarga hanya bisa menganggapnya itu sebagai anugerah Yang Maha Kuasa. "Ya mungkin itu sudah kehendak Allah," ujar putri Abdul Madjid, Nasoi Huddiniyah.

Cucu Kiai Ghofur itu hanya menjelaskan dalam membeli pelajaran santrinya, Kiai Ghofur menekankan agar santrinya selalu hafal. Dia tidak ingin santrinya lupa atau tidak berusaha menghafal. "Jadi, mbah yai Ghofur mengharapkan agar santrinya selalu hafal apa yang dia ajarkan," ujar Nasoi Huddiniyah.

Sementara mantan santri yang sekarang menjadi ustad di Miftahul Ulum, Choirul Anam mengatakan gurunya itu selalu teliti dalam mengkaji ilmu agama. "Beliau itu teliti dalam mengambil hukum syariah. Dalam mengambil keputusan, beliau dapat mencari sumber hukum yang orang lain belum tentu mampu menguasainya," ujar Choirul Anam.

Hal itulah yang patut diteladani dari seorang Kiai Ghofur. Ayah tiga putri juga mengharapkan kepada keluarga dan santrinya untuk selalu salat istiqomah. Yakni pelaksanaan salat yang teratur dan lancar.

Disamping itu, dia juga tidak mengenal dunia politik. Dia tidak mau berkecimpung dalam dunia politik. Kiai Ghofur hanya mau memilih, tanpa mau dipilih. Bahkan dalam memilih itu, dia tidak mau memilih orang yang mengharapkan agar dia memilihnya.

"Kalau memilih itu hukumnya wajib dalam fiqih. Namun untuk memilih, Abah berdasarkan pada Sunnah Rasul. Yakni tidak memilih orang yang mengharapkan atau mengkampanyekan dirinya agar dipilih," ujar Abdul Madjid. (*)

sejarah PASURUAN

Kota Pasuruan terletak ditepi pantai dan merupakan kota Bandar kuno. Pada jaman Erlangga kota ini disebut "PARAVAN" sedang pada jaman sejarah tiongkok disebut "GEMBONG"
Konon ada orang dari negeri Blambangan yang bernama kiai Gedee Menak Soepethak menjadi Raja di Pasuruan, yang kemudian digantikan oleh orang Surabaya bernama Kiai Gedee Kapulungan yang memenangkan peperangan. Demikian kejadian berikutnya Kiai Gedee Kapulungan digantikan oleh Kiai Gedee Dermoyudo dari Kartosuro, dimana dalam menjalankan Pemerintahannya wafat dan digantikan oleh anaknya yang juga bernama Dermoyudo. Kiai Gedee Dermoyudo lari ke Surabaya dan lolos dalam perang melawan Mas Pekik, serta dalam pelariannya dia wafat dan dimakamkan di pemakaman Bibis Wetan Kantor Pos Surabaya. Dengan demikian Mas Pekik menjadi Raja di Pasuruan, kemudian wafat dan digantikan oleh Onggojoyo.

  • Tahun 1671 - 1686

Pasuruan dibawah pemerintahan Onggo Djoyo, yang berasal dari keturunan kyai Brondong mendapat perlawanan dari untung Suropati dan kemudian kalah lalu melarikan diri ke kota Surabaya.
  • Tahun 1686 -1706

Pasuruan dibawah pemerintahan Djoko Untung Suropati dengan gelar Adipati Wironegoro.
Tahun 1706

Djoko Untung Suropati perang dengan VOC di Bangil dan mengalami luka - luka hingga meninggal, sampai sekarang makamnya tidak diketahui, yang ada petilasannya berupa GOA tempat persembunyiannya di pedukuhan mancilan desa Pohjentrek.
  • Tahun 1707

Putra Djoko Untung Suropati yang bernama Rachmad, menggantikan kedudukan ayahnya dan meneruskan perjuangan beliau sampai ke Timur dan gugur dalam pertempuran.
  • Tahun 1743

Darmayudo IV bernama Wongso Negoro Nitinegoro sebagai pengganti Rachmad. Sejak saat itu VOC dapat menguasai pantai utara jawa termasuk Pasuruan dan menganggap kota Pasuruan sebagai kota Bandar, sehingga perlulah dijadikan Ibukota Karesidenan dengan wilayah : Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Bangil
  • Tahun 1916

Karena Pasuruan dianggap kota yang penting oleh ahli-ahli Belanda, maka tanggal 1 Juli 1916 (stbl 1918 No. 320) dibentuk STADS GEMSENTE VAN PASOEROEAN
  • Tahun 1926

Ditetapkan pelabuhan Pasuruan dengan peta daerah pelabuhan dan peta daerah kepentingan pelabuhan (stbl. 1926 No. 512, perubahan stbl 1920 No. 426)
  • Tahun 1928

Ibukota Karesidenan Pasuruan dipindahkan ke Malang.
  • Tahun 1935

Penggabungan Kotamadya Malang, Kotamadya Pasuruan, Kotamadya Probolinggo. Karena kota Pasuruan adalah ibukota Karesidenan, maka Belanda mengadakan kegiatan dengan mendirikan pabrik-pabrik gula disekitar Pasurun (Kedawung, pengkol, pleret, dan pabrik - pabrik yang ada di Probolinggo, Sidoarjo dan Malang. Untuk Keperluan tersebut dianggap perlu adanya Balai penelitian Gula(Proofstation Van Ooc Java) yang merupakan badan penelitian tersebar dibelahan bumi bagian selatan, kini balai-balai tersebut masih berfungsi dan diberi nama BP3G (Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula)



Agar Pabrik-pabrik itu bisa lestari, maka didirikan sebuah bingkil besar ntuk merevisi pabrik gula sesudah giling dengan nama De Bromo, pada jaman merdeka diberi nama PN. Boma yang mempunyai tiga unit antara lain:
1. Unit Bhinneka.
2. Unit Turangga.
3. Unit Wahana.

Masing - masing berfungsi sebagai unit aneka ragam pekerjaan, unit yang membuat mesin dan unit yang membuat gerbang kereta api.

  • Tahun 1950

Kota Pasuruan dinyatakan daerah otonom yang terdiri atas 19 Desa dan Satu Kecamatan.
  • Tahun 1982

Berdasarkan PP NO. 46 / 1982 tanggal 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan dimekarkan menjadi 3 Kecamatan dengan 19 Kelurahan dan 15 Desa tambahan dari kabupaten Pasuruan.